Rabu, 01 Februari 2017

Mengenal MSG atau micin

Hampir disetiap bahan makanan mengandung zat aditif khususnya monosodium glutamat (MSG) atau mononatrium glutamat yang merupakan senyawa sintetik yang dapat menimbulkan rasa enak atau umami (flavour potentiator) atau menekan rasa yang tidak diingankan dari suatu bahan makanan (Winarno, 1988:208).
MSG juga merupakan zat penyedap rasa yang banyak digunakan oleh produsen makanan untuk membuat produknya menjadi lebih enak. Zat tersebut merupakan pembentuk protein, sehingga apabila zat makanan ditambahkan vetsin (MSG) akan berasa seperti ditambah kaldu daging (protein)

MSG juga merupakan zat penambah rasa pada makanan yang dibuat dari hasil fermentasi zat tepung dan tetes dari gula tebu. Ketika MSG ditambahkan pada makanan, dia memberikan fungsi yang sama seperti glutamat yaitu mem-berikan rasa sedap pada makanan. MSG sendiri terdiri dari air, sodium, glutamat (http://hanyawanita.com/clickwok/health/health01.htm). Sebenarnya MSG yang berbentuk kristal putih ini tidak memiliki rasa, tetapi mempunyai fungsi sebagai penegas cita rasa (flavour enhancer) makanan, terutama dari protein hewani (daging, ikan, ayam)

PEMANFAATAN MSG PADA MAKANAN

 Memang tidak dapat dipungkiri, kelezatan suatu hidangan dapat menambah gairah santap. Berbagai carapun dilakukan untuk menghasilkan suatu hidangan yang lezat. Salah satunya dengan menambahkan sedikit bahan penyedap rasa instan (MSG) ke dalam hidangan tersebut. MSG, yang terdiri dari air, sodium, dan glutamat ini mudah didapat dan harganya pun murah. Sehingga sering membuat kita lupa akan adanya efek yang ditimbulkan setelah mengon-sumsi MSG ini.

Di dalam MSG, yang berperan dalam memberikan rasa lezat pada makanan adalah glutamat. Glutamat merupakan asam amino yang secara alami terdapat pada semua bahan makanan yang mengandung protein, misalnya keju, daging, susu, ikan, dan sayuran. Glutamat juga diproduksi oleh tubuh manusia dan sangat diperlukan untuk metabolisme tubuh dan fungsi otak. Setiap orang rata-rata membutuhkan kurang lebih 11 gram glutamat per hari yang didapat dari sumber protein alami

Sebenarnya, tubuh manusia dan binatang memproduksi sendiri senyawa glutamat untuk keperluan metabolisme, fungsi otak, dan berbagai sumber energi. Penelitian di Amerika menunjukkan rata-rata orang Amerika per hari mengonsumsi glutamat sekitar 11 garam dari bahan alami, 1 gram dari MSG, 30-45 gram dari keju parmesan, dan 50 gram dari produksi tubuh sendiri. Jadi, jika ditotalkan maka glutamat yang ada di dalam tubuh hampir 100 gram per hari. Karenanya, tidaklah mengherankan bila MSG dibibihkan pada makanan, tubuh menganggapnya sebagai glutamat yang vital bagi metabolisme tubuh dan akan sangat merangsang pencernaan. Hal ini pernah dinyatakan oleh Profesor Bernd Lindman dari Universuitas Hamburg dalam Maryam, yang mengatakan, “... bagi manusia konsumsi protein merupakan kebutuhan mutlak untuk menjaga fungsi kehidupan manusia dalam evolusinya mengembangkan kepekaan untuk mengenali rasa protein yang amat penting badi fungsi kehidupannya, sekaligus meng-gemarinya”. Dari sini kita menjadi tahu mengapa makanan cepat saji atau chips kentang yang banyak dibubuhi bahan penyedap ini (MSG) jauh lebih digemari orang, terutama oleh anak-anak (red)

Sejarah MSG

Jurnal Chemistry Senses menyebutkan, Monosodium Glutamate (MSG) mulai terkenal tahun 1960-an, tetapi
sebenarnya memiliki sejarah panjang. Selama berabad-abad orang Jepang mampu menyajikan masakan yang sangat  lezat. Rahasianya adalah penggunaan sejenis rumput laut bernama Laminaria japonica. Pada tahun 1908, Kikunae Ikeda, seorang profesor di Universitas Tokyo, menemukan kunci kelezatan itu pada kandungan asam glutamat. Penemuan ini melengkapi 4 jenis rasa sebelumnya – asam, manis, asin dan pahit – dengan umami (dari akar kata umai yang dalam bahasa Jepang berarti lezat). Sementara menurut beberapa media populer , sebelumnya di Jerman pada tahun 1866, Ritthausen juga berhasil mengisolasi asam glutamat dan mengubahnya menjadi dalam bentuk monosodium glutamate (MSG), tetapi belum tahu kegunaannya sebagai penyedap rasa.

MSG kimiaSeiring perkembangan jaman dan kemajuan teknologi, diketahui bahwa rasa gurih dari makanan itu bisa didapat dari protein yang dipecah menjadi asam amino tertentu dengan menggunakan proses fermentasi , jadilah produk/bahan yang disebut MSG dan bahan bakunya kaya glukosa seperti tetes tebu (molasses), singkong, jagung, gandum, sagu/tapioca dan beras. MSG ini banyak digunakan dalam bahan makanan/masakan karena sifatnya yang gurih/umami itu. Dipasaran kita tahu berbagai produk yang telah beredar yang fungsinya membuat masakan menjadi gurih. Secara kimiawi MSG adalah senyawa yang merupakan kombinasi dari +/- 10% air (H2O), 12% sodium (natrium) dan 78% glutamat. Secara penggolongan tentang makanan dan minuman di lembaga kesehatan MSG digolongkan sebagai zat penambah rasa (flavor additive).

Sejak penemuan itu, Jepang memproduksi asam glutamat melalui ekstraksi dari bahan alamiah. Tetapi karena permintaan pasar terus melonjak, tahun 1956 mulai ditemukan cara produksi L-glutamic acid melalui fermentasi. L-glutamic acid inilah inti dari MSG, yang berbentuk butiran putih mirip garam. MSG sendiri sebenarnya tidak memiliki rasa. Tetapi bila ditambahkan ke dalam makanan, akan terbentuk asam glutamat bebas yang ditangkap oleh reseptor khusus di otak dan mempresentasikan rasa dasar dalam makanan itu menjadi jauh lebih lezat dan gurih.

Sejak tahun 1963, Jepang bersama Korea mempelopori produksi masal MSG yang kemudian berkembang ke seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Setidaknya sampai tahun 1997 sebelum krisis, setiap tahun produksi MSG Indonesia mencapai 254.900 ton/tahun dengan konsumsi mengalami kenaikan rata-rata sekitar 24,1% per tahun.
Pada perkembangannya, MSG menimbulkan isu pro & kontra karena dianggap menyebabkan berbagai jenis ketidaknyamanan dalam kesehatan, tetapi ada/banyak juga yang menganggapnya aman. Yang pasti badan dunia FAO (Food and Agricultural Organization) melalui JECFA (Joint Expert Commitee on Food Additive) pada evaluasi terhadap MSG yang terakhir pd thn 1987, memberikan status Acceptable Daily Intake (ADI) not specified atau dengan kata lain aman (sumber :Wikipedia).
Kita semua juga tahu segala sesuatu yang berlebihan tentu tidak baik bagi tubuh kita, termasuk tentunya konsumsi yang berlebihan dari MSG.

Mitos yang selama ini dianut oleh masyarakat awam dan sebagian klinisi atau dokter bahwa MSG berbahaya adalah salah. Ternyata MSG atau vetsin aman untuk digunakan atau dikonsumsi dalam makanan sehari-hari. Berbagai mitos tentang efek samping MSG tidak memiliki bukti ilmiah yang kuat, sehingga seluruh badan pengawasan makanan dunia masih menggolongkan MSG sebagai bahan yang “Generally Regarded as Safe” (GRAS) dan tidak menentukan berapa batas asupan hariannya. Bila terjadi kontroversi tentang suatu masalah sebaiknya merujuk perbedaan pendapat tersebut tertuju pada penelitian ilmiah atau rekomendasi resmi institusi kesehatan internasional yang kredibel. Dalam dunia kedokteran modern pendapat seorang dokter ahli atau bahkan seorang profesorpun tidak akan berlaku selama bertentangan dengan fakta ilmiah atau rekomendasi resmi institusi kesehatan yang kredibel.

MSG atau vetsin atau sering disebut micin bukanlah bumbu masak yang sering dipakai sebagai penyedap. Manfaatnya sebagai sumber rasa gurih, memang tidak terbantahkan. Namun bukan berartisecara terbuka diterima dan bebas dari isu-isu negatif terutama bila dikaitkan dengan kesehatan.

MSG yang kita kenal Mono Sdium Glutamat pertama kali di Jepang pada tahun 1909. Perusahaan pertama yang memproduksi secara massal adalah Ajinomoto. Seiring berjalannya waktu dan kebutuhan masakan dari masyarakat yang terus meninggkat, kemudian muncullah merk-merk dagang  MSG lainnya.

Aman dikonsumsi
Tahun 1987, Joint Expert Committee on Food Additives (JECFA) dari Badan Pangan Dunia milik PBB serta WHO, menempatkan MSG dalam kategori bahan penyedap masakan yang aman dokonsumsi dan tidak berpengaruh pada kesehatan tubuh. Pernyataan ini diperkuat oleh European Communities Scientific Committee for foodspada tahun 1991. Selanjutnya, Badan Penagwas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) pada tahun 1995 menyatakan bahwa MSG termasuk sebagai bahan bumbu masakan, seperti halnya garam, merica, dan gula, sehingga aman bagi tubuh.

Untuk ibu hamil.
Bukti klinis memang belum ada. Namun FDA mengganggap MSG aman-aman saja buat ibu hamil. Belum terbukti ibu hamil yang mengonsumsi makanan mengandung MSG akan melahirkan bayi yang mengalami gangguan kesehatan. Penelitian baru dilakukan terhadap tikus hamil yang diberi MSG bubuk dalam dosis tinggi, 4 mg/hari, yang hasilnya menunjukkan MSG mampu menembus plasenta dan otak janin menyerap MSG dua kali lipat daripada otak induknya. Sepuluh hari setelah lahir, anak-anak tikus ini lebih rentan mengalami kejang dibanding dari induk yang tidak mengonsumsi MSG. jadi mengingat apa pun yang masuk ke ibu akan diaslurkan oleh plasenta ke janin, sebaiknya ibu hamil mengurangi konsumsi MSG.

Untuk balita.
Sama halnya dengan ibu hamil, seberapa gram persisnya MSG dapat membahayakan kesehatan anak belum bias dibuktikan secara klinis. Namun, melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia 69/1999, Badan Pengawas Obat dan MAkanan Indonesia melarang tegas penambahan MSG pada makanan pendamping ASI maupun susu formula untuk menghindari risiko gangguan kesehatan yang mungkin timbul, karena pencernaan anak-anak yang belum kuat.

Batas ambang konsumsi.
Belum ada peraturan baku dunia, termasuk yang dikeluarkan oleh lembaga pangan dan kesehatan dunia (FAO dan WHO). Yang sudah bisa diketahui adalah titik optimal rasa gurih yang bisa dirasakan seseorang, yaitu maksimal 5 gram/hari. Dalam peraturan Menteri Kesehatan RI No.722/Menkes/Per/IX/88, penggunaan MSG dibatasi secukupnya, tidak boleh berlebihan. Sayangnya, tidak dijelaskan secara detail berapa gram/hari yang dianjurkan.

Melihat fakta ilmiah dan rekomendasi berbagai institusi kesehatan int5ernasional tersebut sebaiknya masyarakat tak perlu takut menggunakan MSG sebagai penyedap masakan. Berdasarkan penelitian dan pengujian, produk ini terbukti aman dikonsumsi. MSG tersusun dari sodium (natrium), glutamat, dan air yang merupakan unsur nutrisi bagi tubuh. ”Untuk membuat MSG harus memakai gula. Glutamat, naturium, air, 3 komponen pembuat MSG. Secara sains, tidak ada bukti alergi karena glutamat. Glutamat ada banyak di tomat, keju, daging, atau ASI.

BPOM Indonesia juga menentukan batas penggunaan MSG secukupnya. Sesuai dengan fungsinya sebagai bumbu masak yang menyedapkan rasa. Batasan ini sama dengan penggunaan garam dan gula dalam masakan. Ada tiga tempat produksi Ajimonomoto yang diperlihatkan. Diawali dari Ajinex, di mana para tamu dapat melihat panel kontrol pengendali proses MSG. Dilanjutkan dengan area penerimaan tetes tebu yang merupakan bahan baku MSG. Lokasi berikutnya, MASAKO yang memperlihatkan bahwa bumbu ini dibuat dari daging ayam dan daging sapi asli, bukan hanya dari perasa daging. Tampak dari ruang kaca bagaimana daging ayam dan daging sapi diterima setelah sebelumnya melalui proses pengecekan kualitas oleh bagian QC. Selanjutnya daging sapi tersebut digiling dan daging ayam direbus kemudian dipisahkan dari tulang-tulangnya dan diolah menjadi bentuk butiran.



Market leader pasar MSG...

Ajinomoto tercatat sebagai perintis industry MSG di dunia. Awal mulanya adalah penemuan sebuah sumber rasa gurih dari kaldu rumput laut oleh Dr Kikunae Ikeda pada tahun 1908 yang kemudian dinamakan Umami. Istilah ini  merupakan bahasa Jepang yang berasal dari kata “umai“. Artinya sama dengan “savoury”, “deliciousness,” “brothy.”   


Di Indonesia,  Ajinomoto sejatinya telah beredar sebelum proklamasi kemerdekaan. Namun produksi resmi di tanah air dimulai dengan pendirian pabrik MSG di Mojokerto pada tahun 1969 . Tahun yang sama dengan mulai merebaknya isu mengenai keamanan MSG di dunia barat. 

Entah berkaitan dengan isu atau tidak, beberapa tahun kemudian, Sasa dan Miwon menyusul langkah Ajinomoto dengan mendirikan  pabrik di Jawa Timur. Masing-masing di Gresik (Miwon) serta Probolinggo dan Sidoarjo (Sasa). Pada praktiknya, sampai sekarang ketiga merek itu merupakan pemain utama MSG di Indonesia. Sementara sekitar tujuh merek MSG lainnya hanya mengekor lantaran kapasitas produksi yang tidak terlalu besar. 

Ketiga merek besar itu bersaing ketat, baik dalam berebut pasar domestic maupun internasional. Apalagi ketika mereka sama-sama melakukan ekspansi dengan membuka perusahaan baru. Ekspansi ini dilakukan karena dua sebab. Pertama, permintaan MSG terus meningkat dari tahun ke tahun. Dan kedua, mereka juga mulai menyasar pasar ekspor. 

Dari merk yang disebutkan di atas ada salah satu brand terbaik yang juga memiliki market share besar di pasar industri MSG yaitu Cheiljedang, produsen asal korea ini banyak di pakai perusahaan besar seperti International Flavor Fragrance, Indofood, P&G dll, namun tidak familiar di telinga konsumen indonesia, ya karena fokus bisnis nya hanya penjualan industri dan ekspor sehingga sangat jarang di temui di pasar retail padahal kualitas product nya sudah teruji dan di percaya di banyak perusahaan besar di dunia. alasan kurang familiar nya MSG cheiljedang (Cj) di pasaran karena fokus bisnis nya bukan hanya di food ingridient namun juga feed stockpoultry, restaurant juga bakery (red)

Menjawab kebutuhan anda MSG..."


Dunia makanan rasa nya takan lepas dari kebutuhan MSG, Mulai dari kecap, sauce, snack, berbagai macam olahan premik seperti bakso,sosis, nugget hingga pembuatan krupuk semua rasa nya tak lengkap jika tak menggunakan MSG.

Untuk menghemat penggunaan MSG dalam industri anda kami menawarkan solusi terbaik pemakaian MSG dengan penambahan 2% Inosinat dan guanilat (I+G) dari pemakaian MSG, sehingga menghemat pemakaian MSG hingga 60-70%.  analogi sederhana nya jika kita pakai micin biasa 3kg cukup dengan pemakaian MSG plus hanya cukup 1kg pemakaian ,wow sangat menghemat biaya produksi bukan..

Bayangkan jika dalam sebuah restoran besar di 50cabang nya pemakaian MSG per bulan rata2 600kg dengan harga perKG misalkan @25.000 - maka sebulan biaya Rp.15.000.000- 
Tapi dengan penambahan I+G yang perKG nya seharga Rp.180.000-/2% = Rp.3.600. menjadi (25.000 + 3.600) x 200kg = Rp.5.720.000-

Dengan penambahan I+G pada MSG dapat menghemat biaya produksi, Dengan penambahan I+G rasa UMAMI (gurihnya) 3-4 kali lebih kuat dibanding MSG biasa dan lebih panjang after taste serta kaya rasa. 

Info pemesanan hubungi Whatsapp di 089668383847.. (red)

Apa itu Nucleotide/I+G (CJtide)

CJTide adalah product penguat rasa terbaik dengan tingkatan rasa paling tinggi memiliki sinergi yang kuat dengan glutamat sehingga menghasilkan kelezatan tingkat tinggi, memiliki pasar skala industri yang sangat mengedepankan efisiensi dan kualitas tinggi.

Komposisi- AJITIDE® IMP: terdiri dari nukleotida dinatrium inosinat nukleotida (kemurnian> 97%).- AJITIDE® I + G: terdiri dari nukleotida dinatrium inosinat dan dinatrium guanilat, dalam proporsi  yang dari 50% masing-masing (kemurnian> 97%).

Manfaat- Meningkatkan bahkan lebih penerimaan sensorik melalui rasa Umami;- Memaksimalkan kompleksitas, dampak, kesinambungan dan keharmonisan rasa makanan;- Mempotensiasi kinerja aroma, yang memungkinkan penghematan biaya formulasi Anda;- Meningkatkan efek Kelezatan gurih untuk mengurangi rasa yang tidak diinginkan, membantu mengurangi natrium.

AJITIDE® adalah produk yang mudah diterapkan, karena:- Itu sangat larut dalam air- Memiliki hygroscopicity rendah- Penawaran stabilitas yang sangat baik dalam suhu tinggi dan di hadapan cahaya- Tidak mudah rusak 

Pemakaian I+G pada umum nya adalah sebagai campuran dalam pemakaian MSG agar memiliki rasa lebih harmonis dan mengurangi pemakaian MSG. Dengan penambahan 2% - 2,5% pada pemakaian MSG dapat mengurangi pemakaian MSG secara keseluruhan, jadi biasa dalam skala industri mengunakan MSG sebanyak 300kg dengan penambahan I+G 2% maka pemakaian cukup dengan 100 Kg. I+G adalah solusi untuk cost down  produksi. (red)